Saturday, November 14, 2009

Labbaik Allahumma Labbaik

Moga Allah swt menjemput saya, serta anda menjadi tetamu, tetamuNya yg paling istimewa.
Moga perjalanan haji saudara-seIslam berjalan lancar dan sempurna dan diterima Allah swt. Mohon kesejahteraan, keselamatan serta kesihatan yg baik bagi umat Islam sejagat. Moga Islam, iman, taqwa terus bersinar dalam hati umat Islam sejagat.

Friday, November 6, 2009

Sirah Sahabat: Abdullah bin Abbas


Moga Allah swt merahmati dan menempatkan Abdullah Bin Abbas di kalangan golongan yg dikasihi dan diredhoi Allah swt. Amiin.

Terima kasih kpd link ini. Moga Allah swt merahmati anda.

Dia pemuda tua, banyak bertanya (belajar), dan sangat cerdas.

Sahabat yang mulia ini mulia segala-galanya, tidak ada yang ketinggalan. Dalam pribadinya terdapat kemuliaan sebagai sahabat Rasulullah saw. Dia beroleh kemuliaan sebagai keluarga dekat Rasulullah karena sebagai anak paman beliau, Abbas bin Abdul Mutthalib. Dia mulia dari sudut ilmu karena dia umat Muhammad yang amat alim dan saleh.

Nama lengkapnya Abdullah bin Abbas. Dia sangat alim tentang kitabullah (Alquran) dan sangat paham maknanya. Dia menguasai Alquran sampai ke dasar-dasarnya, mengetahui sasaran, dan segala rahasianya.

Ibnu Abbas lahir tiga tahun sebelum hijrah. Ketika Rasulullah Saw wafat, dia baru berumur tiga belas tahun. Dalam usia sebaya itu, dia telah menghafal seribu enam ratus enam puluh hadis untuk kaum muslimin yang diterimanya langsung dari Rasulullah dan dicatat oleh Bukhari dan Muslim dalam kitab sahih mereka.

Setelah Ibnu Abbas lahir ke dunia, bayi yang masih merah itu segera dibawa ibunya kepada Rasulullah saw. Beliau memasukkan air liurnya ke dalam kerongkongan bayi itu. Air liur Nabi yang suci dan penuh berkat itulah yang pertama-tama masuk ke dalam rongga perut anak tersebut, sebelum ia disusukan ibunya. Seiring dengan air liur Nabi, masuk pulalah ke dalam pribadi bayi itu takwa dan hikmah. "Dan siapa saja yang diberi hikmah, sungguh dia telah diberi kebajikan yang banyak." ( Al-Baqarah: 269).

Ketika anak itu meninggalkan usia kanak-kanak dan mulai memasuki usia tamyiz (usia 6 atau 7 tahun), dia tinggal di rumah Rasulullah seperti adik terhadap kakak yang saling mengasihi. Dia menyediakan air wudu beliau apabila hendak wudu. Bila Rasulullah salat, anak itu ikut salat; bila beliau bepergian, dia membonceng di belakang. Sehingga, Ibnu Abbas bagaikan bayang-bayang yang senantiasa mengikuti ke mana saja beliau pergi, atau dia senantiasa berada di seputar beliau. Sementara itu, anak tersebut dapat menyimpan dalam hati dan pikirannya yang bersih segala peristiwa yang dilihat dan kata-kata yang didengarnya, tanpa alat tulis menulis seperti yang kita kenal sekarang.

Ibnu Abbas bercerita mengenai dirinya, "Pada suatu ketika Rasulullah saw hendak mengerjakan salat. Aku segera menyediakan air wudu untuk beliau. Beliau gembira dengan apa yang kulakukan. Ketika beliau siap untuk salat, dia memberi isyarat kepadaku supaya berdiri di sampingnya. Tetapi, aku berdiri di belakang beliau. Setelah selesai salat, beliau menoleh kepadaku seraya bertanya, "Mengapa engkau tidak berdiri di sampingku?" Jawabku, "Anda sangat tinggi dalam pandanganku, dan sangat mulia untukku berdiri di samping Anda." Rasulullah menadahkan tangannya, lalu berdoa, "Wahai Allah, berilah dia hikmah."

Allah memperkenankan doa Rasulullah tersebut. Dia memberi cucu Hasyim tersebut hikmah, melebihi hikmah ahli-ahli hikmah yang besar-besar. Tentu Anda ingin tahu, hikmah bentuk apa yang telah dilimpahkan Allah kepada Abdullah bin Abbas. Marilah kita perhatikan kisah selanjutnya.

Ketika sebagian sahabat memencilkan dan menghina Khalifah Ali bin Abu Thalib, Abdullah bin Abbas berkata kepada Ali, "Ya, Amirul Mukminin, izinkanlah saya mendatangi mereka dan berbicara kepadanya." Kata Ali, "Saya khawatir risiko yang mungkin engkau terima dari mereka." Jawab Ibnu Abbas, "Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa." Ibnu Abbas masuk ke dalam majlis mereka. Dilihatnya mereka orang-orang yang sangat rajin beribadah. Mereka berkata, "Selamat datang, hai Ibnu Abbas. Apa maksud kedatangan Anda kemari?" Jawab Ibnu Abbas, "Saya datang untuk berbicara dengan tuan-tuan." Sebagian yang lain berkata, "Katakanlah, kami akan mendengarkan bicara Anda." Ibnu Abbas berkata, "Coba tuan-tuan katakan kepada saya, apa sebabnya tuan-tuan membenci anak paman Rasulullah yang sekaligus suami anak perempuan beliau (mantu Rasulullah), dan orang yang pertama-tama iman dengan beliau?" Jawab mereka, "Kami membencinya karena tiga perkara." Tanya Ibnu Abbas, "Apa itu?" Mereka menjawab, "Pertama, dia bertahkim (mengangkat hakim) kepada manusia tentang urusan agama Allah. Kedua, dia memerangi Aisyah dan Muawiyah, tetapi dia tidak mengambil harta rampasan dan tawanan. Ketiga, dia menanggalkan gelar Amirul Mukminin dari dirinya, padahal kaum muslimin yang mengukuhkan dan mengangkatnya. Kata Ibnu Abbas, "Sudikah tuan-tuan mendengar Alquran dan hadis Rasulullah yang saya bacakan? Tuan-tuan tentu tidak akan membantah keduanya. Apakah tuan-tuan bersedia mengubah pendirian tuan-tuan sesuai dengan maksud ayat dan hadis tersebut?" Jawab mereka, "Tentu!" Kata Ibnu Abbas, "Masalah pertama, bertahkim kepada manusia dalam urusan agama Allah. Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram, siapa saja di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak yang seimbang dengan buruan yang dibunuhnya menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu." (Al-Maidah: 95). Saya bersumpah dengan tuan-tuan menyebut nama Allah. Apakah putusan seseorang tentang hak darah atau jiwa, dan perdamaian antara kaum muslimin yang lebih penting ataukah seekor kelinci yang harganya seperempat dirham?"
Jawab mereka, "Tentu darah kaum muslimin dan perdamaian di antara mereka yang lebih penting." Kata Ibnu Abbas, "Marilah kita keluar dari persoalan ini."

Kata Ibnu Abbas, "Masalah kedua, Ali berperang tetapi dia tidak menawan para wanita seperti yang terjadi pada masa Rasulullah. Mengenai masalah ini, sudikah tuan-tuan mencaci Aisyah, lantas tuan-tuan halalkan dia seperti wanita-wanita tawanan yang lain-lain. Jika tuan-tuan mengatakan "Ya," tuan-tuan kafir. Dan, jika tuan-tuan menjawab, dia bukan ibu kami, tuan-tuan kafir juga. Allah SWT berfirman: "Nabi itu hendaknya lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri, dan istri-istri Nabi adalah ibu-ibu mereka." (Al-Ahzab: 6).

"Nah, pilihlah mana yang tuan-tuan suka. Mengakui ibu atau tidak. Kata Ibnu Abbas, "Ali menanggalkan gelar 'Amirul Mukminin' dari dirinya. Sesungguhnya ketika Perjanjian Hudaibiyah ditandatangani, mula-mula Rasulullah menyuruh untuk ditulis, inilah perjanjian dari Muhammad Rasulullah. Lalu kata kaum musyrikin, "Seandainya kami mengakui engkau Rasulullah, tentu kami tidak menghalangi engkau mengunjungi Baitullah dan tidak memerangi engkau. Karena itu, tuliskan nama engkau saja, "Muhammad bin Abdullah."
Rasulullah memenuhi permintaan mereka seraya berkata, "Demi Allah, aku adalah Rasulullah, sekalipun kalian tidak mempercayaiku.
"Bagaimana?" tanya Ibnu Abbas, "Tidak pantaskah masalah memakai atau tidak memakai gelar 'Amirul Mukminin' itu kita tanggalkan saja? Jawab mereka, "Ya Allah, kami setuju." Hasil pertemuan Ibnu Abbas dengan mereka (kaum Khawarij) dan alasan-alasan yang dikemukakannya menyebabkan 20.000 orang yang membenci Ali kembali masuk ke dalam barisan Ali. Yang memusuhinya hanya tinggal 4.000 orang.

Waktu muda Abdullah bin Abbas mencari ilmu dengan berbagai cara yang dapat dilakukannya. Waktunya dihabiskan umtuk menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Mula-mula dia memperoleh ilmu dari mata air yang mulia, yaitu langsung dari Rasulullah sampai beliau wafat. Setelah beliau tiada, dihubunginya ulama-ulama sahabat, lalu dia belajar kepada mereka. Ibnu Abbas pernah bercerita, "Apabila seseorang menyampaikan sebuah hadis kepadaku yang diperolehnya dari seorang sahabat Rasulullah, maka kudatangi sahabat tersebut ke rumahnya waktu dia tidur siang. Lalu, aku bentangkan serbanku dekat tangga rumahnya dan aku duduk di situ menunggu dia bangun. Sementara itu, angin bertiup memenuhi tubuhku dengan debu tanah. Seandainya aku minta izin masuk kepadanya, tentu dia akan mengizinkanku. Tetapi, memang aku sengaja melakukan demikian supaya tidak menganggunya tidur. Ketika dia keluar dan melihatku dalam keadaan demikian, dia berkata, "Wahai anak paman Rasulullah. Mengapa Anda sendiri yang datang ke sini? Mengapa tidak Anda suruh saja seseorang memanggilku. Tentu aku datang memenuhi panggilan Anda!" Jawabku, "Akulah yang harus mendatangi Anda, ilmu harus didatangi, bukan ilmu yang harus mendatangi. Sesudah itu kutanyakan kepadanya hadis yang kumaksud."

Ibnu Abbas rendah hati dalam menuntut ilmu. Dia menghormati derajat ulama. Pada suatu hari Zaid bin Tsabit, penulis wahyu dan ketua pengadilan Madinah bidang Fiqih, Qira'ah, dan Faraidh, mendapat kesulitan karena hewan yang ditungganginya bertingkah. Lalu, Abdullah bin Abbas berdiri ke hadapannya seperti seorang hamba di hadapan majikannya. Ditahannya hewan kendaraan Zain bin Tsabit. Kata Zaid, "Biarkan saja, wahai anak paman Rasulullah!" Jawab Ibnu Abbas, "Beginilah caranya kami diperintahkan Rasulullah terhadap ulama kami." Kata Zaid bin Tsabit, "Coba perlihatkan tangan Anda kepada saya!"
Ibnu Abbas mengulurkan tanganya kepada Zaid, lalu dicium oleh Zaid. "Begitulah caranya kami diperintahkan Rasulullah menghormati keluarga Nabi kami, Kata Zaid."

Ibnu Abbas sangat rajin menuntut ilmu sehingga mencengangkan ulama-ulama besar. Masruq bin Ajda', seorang ulama besar Tabi'in berkata, "Paras Ibnu Abbas sangat elok. Bila dia berbicara, bicaranya sangat fasih. Bila dia menyampaikan hadits, dia sangat ahli dalam bidang itu."

Setelah ilmu yang dicarinya sempurna, Ibnu Abbas beralih menjadi guru mengajar. Rumahnya berubah menjadi jam'iah (universitas) kaum muslimin. Memang tidak salah kalau kita katakan universitas, seperti yang kita kenal sekarang. Beda universitas Ibnu Abbas dengan universitas kita sekarang ialah di universitas kita yang mengajar ada sepuluh sampai ratusan orang dosen atau profesor. Tetapi, di universitas Ibnu Abbas yang mengajar Ibnu Abbas seorang.

Salah seorang kawan Ibnu Abbas bercerita, "Saya berpendapat, seandainya kaum Quraisy mau membanggakan universitas Ibnu Abbas, memang pantas mereka bangga. Saya lihat orang banyak sudah penuh berkumpul di jalan menuju ke rumah Ibnu Abbas, sehingga jalan itu sempit dan tertutup oleh kepala orang banyak. Saya masuk menemuinya dan memberi tahu bahwa orang banyak sudah berdesak-desak di muka pintu. Katanya, "Tolong ambilkan saya air wudu!" Lalu dia berwudu dan sesudah itu duduk di ruangan majelis. Katanya, "Siapa yang hendak belajar Alquran suruhlah mereka masuk." Saya keluar memberi tahu orangn banyak. Mereka pun masuk, sehingga seluruh ruangan dan kamar-kamar penuh dengan orang yang hendak belajar Alquran. Apa saja yang mereka tanyakan dijawabnya panjang lebar. Kemudian berkata kepada mereka, "Beri kesempatan kawan-kawan yang lain!" Lalu mereka keluar semuannya. Katanya, "Suruh masuk orang-orang yang hendak belajar tafsir Alquran dan takwilnya!" Maka, kuumumkan kepada orang banyak, sehingga mereka masuk pula memenuhi ruangan dan kamar-kamar. Apa yang ditanyakan mereka dijawabnya sampai mereka puas. Katanya, "Sekarang beri kesempatan pula kawan-kawan yang lain!" Saya disuruhnya keluar menyilakan orang yang hendak belajar tentang halal dan haram dan masalah-masalah fikih. Mereka pun masuk. Segala pertanyaan mereka dijawabnya panjang lebar. Setelah cukup waktunya, dia berkata pula, "Kini beri kesempatan kawan-kawan yang hendak belajar faraid dan sebagainya!" Mereka pun keluar, dan masuk pula orang-orang yang hendak belajar ilmu faraidh. Setelah selesai pelajaran faraid, disuruh masuk pula orang-orang yang hendak sastra Arab, syi'ir dan kata-kata arab yang sulit. Kemudian Ibnu Abbas membagi-bagi hari untuk beberapa macam bidang ilmu dalam beberapa hari, guna mencegah orang berdesak-desakkan di muka pintu. Umpamanya, sehari dalam seminggu untuk bidang ilmu tafsir, besok ilmu fikih, besok ilmu peperangan (sejarah peperangan Rasulullah) atau strategi perang. Sesudah itu ilmu syi'ir, sesudah itu ilmu sastra Arab. Tidak ada orang alim yang duduk dalam majelis Ibnu Abbas melainkan menundukkan diri kepadanya.

Karena kealiman dan kemahirannya dalam berbagai bidang ilmu, dia senantiasa diajak bermusyawarah oleh khalifah rasyidah (bijaksana) sekalipun dia masih muda belia. Apabila Khalifah Umar bin Khattab menghadapi suatu persoalan yang rumit, diundangnya ulama-ulama terkemuka termasuk Ibnu Abbas yang muda belia. Bila Ibnu Abbas hadir, Khalifah Umar memberikan tempat duduk yang lebih tinggi bagi Ibnu Abbas dan Khalifah sendiri duduk di tempat yang lebih rendah seraya berkata, "Anda lebih berbobot daripada kami."

Pada suatu ketika Khalifah Umar mendapat kritik karena perlakuan yang diberikannya kepada Ibnu Abbas melebihi dari ulama yang tua-tua. Maka, kata Umar, "Dia pemuda tua, dia lebih banyak belajar dan berhati tenang."

Ketika Ibnu Abbas beralih mengajar orang-orang tertentu, dia tetap tidak melupakan kewajibannya terhadap orang-orang awam. Maka, dibentuknya majelis-majelis wa'azh dan tadzkir (pendidikan dan pengajaran). Di antara pengajarannya, dia berkata kepada orang-orang yang berdoa, "Wahai orang yang berbuat dosa! Jangan sepelekan akibat-akibat perbuatan dosa itu, sebab ekornya jauh lebih gawat daripada dosa itu sendiri. Kalau engkau tidak merasa malu kepada orang lain, padahal engkau telah berbuat dosa, maka sikap tidak punya malu itu sendiri adalah juga dosa. Kegembiraanmu ketika melakukan dosa, padahal engkau tidak tahu apa yang diperbuat Allah atas dirimu adalah juga dosa. Kalau engkau sedih karena tidak dapat berbuat dosa, maka kesedihanmu itu jauh lebih dosa daripada perbuatan itu. Engkau takut kalau-kalau angin bertiup membukakan rahasiamu, tetapi engkau sendiri telah berbuat dosa tanpa takut akan Allah yang melihatmu. Maka, sikap seperti itu adalah lebih besar dosanya ketimbang perbuatan dosa itu."

"Wahai orang yang berdosa! Tahukah Anda dosa Nabi Ayyub as. Yang menyebabkannya mendapat bala (ujian) mengenai jasad dan harta bendanya? Ketahuilah, dosanya hanya karena ia tidak menolong seorang miskin yang minta pertolongannya untuk menyingkirkan kezaliman."

Ibnu Abbas tidak termasuk orang-orang yang pandai berkata tetapi tidak berbuat. Dia tidak termasuk orang yang pandai melarang tetapi tidak menghentikan. Abdullah bin Mulaikah bercerita, "Saya pernah menemani Ibnu Abbas dalam suatu perjalanan dari Mekah ke Madinah. Ketika kami berhenti di suatu tempat, dia bangun tengah malam, sementara yang lain-lain tidur karena lelah. Saya pernah pula melihatnya pada suatu malam membaca ayat ke-19 surat Qaf berkali-kali sambil menangis hingga terbit fajar. Sebagai kesimpulan, tahulah kita bahwa Ibnu Abbas yang berparas tampan itu senantiasa menangis tengah malam karena takut akan siksa Allah sehingga air mata membasahi kedua pipinya.

Ibnu Abbas sampai ke puncak ilmu yang dimilikinya. Pada suatu ketika musim haji, Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan pergi haji. Bersamaan dengan Khalifah, pergi pula Abdullah bin Abbas. Khalifah Muawiyah diiringkan oleh pasukan pengawal kerajaan. Abdullah bin Abbas diiringkan oleh murid-muridnya yang berjumlah lebih banyak daripada pengiring Khalifah.

Usia Abdullah bin Abbas mencapai tujuh puluh satu tahun. Selama itu dia telah memenuhi dunia dengan ilmu, paham, hikmah, dan takwa. Ketika dia meninggal, Muhammad bin Hanafiyah turut melakukan salat atas jenazahnya bersama-sama dengan para sahabat yang lain-lain serta para pemuka tabi'in.

Tatkala mereka menimbun jenazahnya dengan tanah, mereka mendengar sura membaca, "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridai-Nya. Masuklah ke dalam kelompok jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke surga-Ku" (Al-Fajr: 27 -- 30).

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Indonesia

Monday, October 19, 2009

Trailer - VCD Motivasi Haji oleh Prof Kamil

Allahuakhbar, Subhanallah.

Moga Allah swt menjemput kita menjadi tetamuNya yg palin istimewa di tanah suci Mekah. Amiin.

Friday, October 9, 2009

Berpada dengan pemberian Allah

Hadith :

Dari Abu Hurairah r.a katanya:Nabi saw. bersabda yang maksudnya:Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripadamu dan jangan melihat kepada orang yang lebih tinggi. Itulah tembok yang kukuh supaya kamu tidak menghina pemberian Allah kepadamu.

(Riwayat Bukhari)

Huraian :

* Selaku insan mukmin, kita tidak harus menyalahkan apa sahaja pemberian Allah SWT apalagi menghinanya kerana jika dihitung-hitung nikmat Allah, nescaya kita tidak akan sanggup menghitungnya lagi disebabkan terlampau banyaknya nikmat tersebut termasuklah pemberian yang tidak kita sedari.

* Oleh itu jangan kita merasa kesal atau kecewa dengan ciptaan atau pemberian Allah sama ada kita mengalami kecacatan, kekurangan dan sebagainya. Hal ini kerana jika kita mengeluh terhadap-Nya, padahal kita sedang menikmati rahmat-Nya, itu bermakna kita tamak dan menutup mata atas nikmat yang telah kita miliki selama ini dan hal demikian akan menjerumuskan kita ke lembah kekufuran serta mengundang kemurkaan Allah sehingga tiba suatu masa kelak, Allah SWT akan menarik semula segala nikmat pemberian-Nya itu dan menggantikannya dengan kesusahan. Ketika itulah kita akan menyesal dan celik akan hakikat sebenarnya.

* Sesungguhnya sebahagian besar musibah yang menimpa manusia adalah disebabkan oleh keluhan-keluhan mereka terhadap-Nya sedangkan Allah itu Maha Pengasih, Maha Adil dan lemah-lembut terhadap hamba-hamba-Nya. Oleh itu dalam apa juga perkara kita hendaklah bersifat qanaâah dan sentiasa bersyukur di samping berusaha dan bersabar kerana Allah ada berfirman yang maksudnya:

…boleh jadi kamu benci pada sesuatu padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. Dan (ingatlah), Allah jualah Yang Mengetahui (semuanya itu) sedang kamu tidak mengetahui.(al-Baqarah:216)

Sumber : Jabatan Kemajuan Islam Malaysia

Thursday, October 1, 2009

Tiga ‘ta’ panduan umat kukuh persaudaraan

Terima kasih http://www.freefoto.com/preview/12-01-18?ffid=12-01-18&k=Rose

Oleh Abdurrahman Haqqi
sumber~ http://www.bharian.com.my



Ta’aruf, ta’awun dan tawasau tingkat takwa agar peroleh kehidupan mulia dunia, akhirat .
JIKA dalam bahasa Melayu kita mengenal konsep 3 Ta yang boleh mengelirukan kehidupan seorang lelaki sehingga dia boleh berjaya mahupun binasa dengannya, dalam bahasa Arab – setidak-tidaknya untuk penyesuaian dengan bahasa Melayu, boleh diperkenalkan konsep Ta 3 yang akan membawa kesejahteraan kepada umat manusia.

Konsep 3 Ta dalam bahasa Melayu merujuk kepada ‘harta, takhta dan wanita’ manakala Ta 3 yang dalam bahasa Arab adalah ta’aruf (saling mengenal), tawasau (menasihati) dan ta’awun (tolong-menolong).

Ta 3 ialah asas perhubungan umat manusia sejagat yang digariskan al-Quran secara nyata. Ia panduan Ilahi yang kekal, tidak putus walau apa pun terjadi. Konsep Ta 3 ialah manusia dicipta untuk saling mengenal (ta’aruf). Apabila saling mengenal, mereka diperintahkan untuk tolong-menolong (ta’awun). Selepas itu mereka perlu mekanisme yang boleh meneruskannya yakni saling menasihati (tawasau).

Bagi ta’aruf, Allah SWT berfirman maksudnya: “Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu daripada lelaki dan perempuan dan Kami sudah menjadikan kamu berbagai-bagai bangsa dan bersuku puak supaya kamu berkenalan (beramah mesra). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih takwanya di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mendalam Pengetahuan-Nya.” (Surah al-Hujarat: 13).

Bagi ta’awun, al-Quran menjelaskan maksudnya: “Dan saling menolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan takwa.” (Surah al-Maidah: 2)

Bagi tawasau, Allah SWT berfirman maksudnya: “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal salih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menepati kesabaran.” (Surah al-’Ashr: 1-3).

Cuba kita bayangkan jika manusia dicipta, kemudian tidak saling mengenal, apa yang akan terjadi? Begitu pula jika sudah kenal, tapi tidak wujud tolong-menolong. Walaupun sudah terjalin hubungan tolong menolong, tapi saling nasihat menasihati tidak menjelma, apa yang akan diperoleh? Hanya hampa dan kepincangan yang bakal dikecapi.

Ibadat yang dengannya tujuan manusia diciptakan seperti dalam firman-Nya bermaksud: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Surah al-Dzariat: 5) menjelma dalam ‘Ta 3′. Ta’aruf, tawasau dan ta’awun juga ialah ibadat.

Seperti kita perhatikan dalam ketiga-tiga ayat di atas, Ta 3 dikaitkan dengan ketakwaan.

Ta’aruf dengan “sesungguhnya semulia-mulia kamu pada sisi Allah SWT ialah orang yang lebih takwanya di antara kamu.” Ta’awun dikaitkan dengan “dan saling menolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan takwa.” Tawasau pula dikaitkan dengan manusia yang tidak merugikan dan manusia yang sedemikian ialah orang yang bertakwa.

Sifat tolong-menolong adalah jambatan saling mengenal dan menasihati. Pengertian saling menolong sangat luas, bahkan sampai ke tahap manusia tidak memahaminya.
Ketika Rasulullah SAW bersabda di depan sahabat yang bermaksud:

“Berikan pertolongan kepada saudaramu sama ada yang zalim atau dizalimi,” mereka hairan lantas berkata: “Kami faham jika kami memberikan pertolongan kepada saudara kamu yang dizalimi tapi bagaimana pula memberikan pertolongan kepada saudara kami yang menzalimi?” Baginda memberikan penjelasan dengan sabdanya: “Kalian halang dia daripada berbuat zalim, dengan itu kalian telah memberikan pertolongan kepadanya.”
Sikap tolong-menolong amat digalakkan Islam. Pertolongan yang kita berikan kepada saudara kita, akan membawa pulangan yang lebih kepada kita. Sabda Nabi maksudnya: “Allah SWT sentiasa menolong orang selagi orang itu sentiasa menolong saudaranya.” (Hadis riwayat Ahmad).” Bahkan memberikan pertolongan adalah sedekah yang paling baik. Rasulullah bersabda maksudnya: “Pertolongan kamu terhadap orang lemah adalah sedekah yang paling afdal.” (Hadis riwayat Ibnu Abi al-Dunia).

Jika saling menolong diamalkan meluas di kalangan umat, ia tanda keberkatan hidup. Dalam hadis Baginda bersabda maksudnya: “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu kaum, maka dijadikan pemimpin mereka kalangan orang yang bijaksana dan dijadikan ulama mereka menangani hukum dan mahkamah. Allah SWT juga jadikan harta benda di tangan orang yang dermawan. Namun, jika Allah SWT menghendaki keburukan bagi satu kaum, maka Dia menjadikan pemimpin mereka orang yang berakhlak rendah. Dijadikan-Nya orang dungu yang menangani hukum dan mahkamah manakala harta berada di tangan orang kikir.” (Hadis riwayat al-Dailami).

Ketiga-tiga aspek kehidupan masyarakat yang disentuh hadis di atas berhubungan erat dengan tolong-menolong untuk mewujudkan pemimpin dan ulama ulung serta dermawan yang ikhlas.

Jika sifat tolong-menolong juga tidak boleh direalisasikan, tiga perkara yang akan memporak-perandakan sendi kehidupan bermasyarakat seperti sabda Baginda maksudnya: “Ada tiga perkara tergolong musibah yang membinasakan iaitu seorang penguasa apabila kamu berbuat baik kepadanya, dia tidak mensyukuri kamu, apabila kamu berbuat kesalahan dia tidak mengampuni; seorang jiran, apabila melihat kebaikan kamu dia pendam (diamkan saja) tapi apabila melihat keburukan kamu dia sebarkan; seorang isteri apabila berkumpul dia mengganggu kamu (dengan ucapan dan perbuatan yang menyakiti) dan apabila kamu pergi, dia akan mengkhianati kamu.” (Hadis riwayat al-Tabrani)

Dalam sejarah awal Islam, contoh saling menolong di kalangan umat Islam banyak kita temui. Ketika putus hubungan kerabat antara Nabi Muhammad SAW dengan bapa saudaranya Abu Lahab, dan saudaranya Amru Hisyam (Abu Jahal), iaitu ketika orang Muhajirin sanggup bertempur di medan perang, menentang sanak saudara, kaum kerabat dan sahabat handai mereka sendiri di medan Perang Badar, ketika itu juga jalinan kekeluargaan terikat begitu erat antara kaum Muhajirin dan Ansar.

Mereka menjadi saudara dan kaum keluarga yang saling menolong dan membantu. Pada masa sama juga tercantum rasa kasih sayang dan tali kekeluargaan antara orang Muslim Arab dengan Muslim berbangsa lain terjalin hubungan kasih mesra dan setia antara mereka. Semua ini berkat ajaran Islam yang dibawa Rasulullah SAW.

Tujuan akhir berjemaah daripada ajaran tolong-menolong adalah penyebaran secara berleluasa amar makruf nahi mungkar yang menjadi mercu tanda kebaikan umat Islam seperti firman Allah SWT maksudnya:
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, iaitu kamu menyuruh berbuat kebaikan dan melarang daripada berbuat kejahatan dan kamu beriman kepada Allah SWT.” (Surah Ali Imran: 110). Jika tidak ada ta’aruf, ta’awun dan tawasau, bolehkah ayat ini dapat direalisasikan?

Thursday, September 17, 2009

Jadikan Ramadan inspirasi Syawal


Oleh MOHD. NORZI NASIR
Di ambil dari blog Nurjeehan. Jazakallah Khairan Khatiraa


AMALAN bertadarus dalam Ramadan perlu diteruskan pada bulan-bulan lain.

RAMADAN terbukti berfungsi sebagai bulan tarbiyah dan pelaburan kerana di dalamnya terkandung janji Allah SWT berserta gugusan pahala yang berlipat ganda sebagai anugerah buat sekalian hambanya natijah dari perlaksanaan amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunnah yang disyariatkan.

Rasulullah SAW bersabda, bahawa Allah SWT berfirman dalam sebuah hadis qudsi yang bermaksud:

Setiap amal manusia adalah untuk dirinya kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku memberi ganjaran dengan amalan puasa tersebut. (riwayat Muslim)

Allah SWT tidak pernah mengabaikan setiap perlakuan amal soleh setiap hamba-Nya meskipun hanya seberat zarah.

Firman Allah yang bermaksud:

Maka sesiapa yang berbuat kebajikan seberat zarah, nescaya akan dilihatnya (dalam buku amalannya). (al-Zalzalah: 7).

Demikian pula sesiapa yang melakukan kejahatan walau seberat zarah, amalannya tetap akan diperlihatkan kepadanya. Firman Allah yang bermaksud:

Dan sesiapa berbuat kejahatan seberat zarah, nescaya akan dilihatnya (dalam buku amalannya). (al-Zalzalah: 8)

Ramadan inspirasi syawal

Ramadan al-Mubarak yang berlalu sewajarnya dijadikan inspirasi dalam mempertingkatkan amalan dan menjaga produktivitinya agar mencapai tingkat istiqamah dalam membina jati diri Muslim yang cemerlang selama saki baki umur masih dibekalkan oleh Allah SWT.

Syawal yang dirai merupakan proses pertama dalam menilai tingkat penghayatan seseorang sepanjang Ramadan, adakah dia mencapai objektif yang dicita-citakan memperolehi keampunan dan pembebasan dari azab api neraka pada hari kiamat?

Apakah keintiman hubungannya Allah semakin dirasai dan bertambah kukuh? Apakah tali silaturrahim sesama Muslim terjalin erat dalam usaha mentaati perintah Allah SWT dan mencari keredaannya?

Apakah segala amalan yang pernah dilakukan pada saat Ramadan mampu dipraktik untuk kesekian kalinya?

Syawal yang bermakna

Hari raya adalah satu peluang yang cukup besar dan bermakna untuk meningkatkan kualiti amalan, memulihkan hubungan sesama manusia yang merupakan tuntutan syariat Islam, berlapang dada, murah hati, ukhuwah, belas kasihan dan kasih sayang.

Sentiasa istiqamah dalam kebaikan

Daripada Aisyah r.a bahawa Rasulullah SAW bersabda:

“Tingkatkanlah amalanmu dengan baik, atau lebih dekatlah kepada kebaikan, dan bergembiralah, kerana amalan seseorang itu tidak dapat memasukkannya ke dalam syurga. Para sahabat bertanya, “Adakah amalanmu juga begitu, wahai Rasulullah”? Jawab Rasulullah SAW: “Amalanku juga begitu. Tetapi Allah melimpahiku dengan rahmat-Nya. Ketahuilah, sesungguhnya amalan yang paling disukai oleh Allah SWT ialah amalan yang dikerjakan secara berterusan walaupun sedikit”. (riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Meneruskan amalan Qiamullail dan ibadah lain

Daripada Abu Umamah r.a Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang melaksanakan qiamullail pada dua malam Eid (Aidil Fitri dan Aidil Adha), dengan penuh keikhlasan kerana Allah SWT, hatinya tidak akan mati pada hari matinya hati-hati manusia.” (riwayat Ibn Majah)

Niat untuk bangun malam melakukan amal ibadah tidak hanya berkutat atau berhenti pada pepatah Melayu ‘hangat-hangat tahi ayam’.

Rasulullah SAW mencela umatnya ketika melakukan suatu perkara ghairah melakukannya di peringkat permulaan namun layu terkulai di penghujungnya.

Daripada Abdullah bin Amr ibn al-As berkata, Rasulullah SAW bersabda:

“Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti si pulan, suatu ketika dahulu dia melakukan solat malam (tetapi sekarang) dia tidak melakukannya lagi.” (riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Melakukan puasa enam hari dalam bulan Syawal

Daripada Abu Ayyub Al-Ansari r.a sesungguhnya dia telah dikhabarkan bahawa Rasulullah SAW bersabda:

“Sesiapa yang berpuasa Ramadan kemudian dia mengiringi puasanya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka (pahalanya) seolah-olah berpuasa selama setahun.” (riwayat Muslim)

Meneruskan amalan bersedekah

Daripada Abu Hurairah r.a sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali dua malaikat turun kepadanya, satu antara kedua-duanya berkata: “Ya Allah, berikanlah ganti (kembangkanlah harta) bagi orang-orang yang berinfak (menghulurkan sedekah)” dan satu yang lain pula berdoa, “Ya Allah, binasakanlah harta orang-orang yang kikir (kedekut)”. (riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Istiqamah menjauhi amalan yang bertentangan

Istiqamah itu bukan sahaja dituntut dalam perihal amal kebaikan sahaja, akan tetapi istiqamah turut dituntut dalam meninggalkan perkara-perkara yang keji dan berdosa.

Firman Allah SWT yang bermaksud:

Dan juga orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka segera ingat kepada Allah lalu memohon ampun akan dosa mereka dan sememangnya tidak ada yang mengampunkan dosa-dosa melainkan Allah. Dan mereka juga tidak meneruskan perbuatan keji yang mereka telah lakukan itu sedang mereka mengetahui akan salahnya dan akibatnya. (ali-’Imran: 135)

Dalam suasana meraikan kedatangan Syawal dan Aidilfitri khasnya, umat Islam dilarang melakukan amalan yang bertentangan dengan syariat Islam. Antaranya:

1. Membazir dan berlebih-lebihan dalam berbelanja. Perbuatan ini amat bertentangan dengan perintah Allah SWT di dalam al-Quran yang bermaksud,

Sesungguhnya orang-orang yang membazir itu adalah saudara-saudara syaitan, sedang syaitan itu pula adalah makhluk yang sangat kufur kepada Tuhannya. (al-Isra’: 27)

2. Hilangnya perasaan kasih sayang dan simpati terhadap fakir miskin. Perlakuan ini bertentangan dengan sabda baginda SAW.

Daripada Abu Said al-Khudri r.a, Rasulullah SAW telah bersabda yang bermaksud:

“Mana-mana orang mukmin yang memberi makan kepada seorang mukmin semasa ia lapar, nescaya Allah memberi makan kepadanya pada hari kiamat dari buah-buahan syurga; dan mana-mana orang mukmin yang memberi minum kepada seorang mukmin semasa ia dahaga, nescaya Allah memberi minum kepadanya pada hari kiamat dari minuman syurga yang tersimpan dengan sebaik-baiknya; dan mana-mana orang mukmin yang memberi pakai kepada seorang mukmin semasa ia memerlukan pakaian, nescaya Allah memberi pakaian kepadanya dari pakaian syurga”. (riwayat al-Tirmidzi)

3. Meniru cara atau etika orang-orang kafir dalam berpakaian ketika menyambut Aidilfitri terutama wanita.

Firman Allah SWT yang bermaksud:

Dan hendaklah kamu tetap diam di rumah kamu serta janganlah kamu mendedahkan diri seperti yang dilakukan oleh orang-orang jahiliah zaman dahulu; dan dirikanlah sembahyang serta berilah zakat; dan taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah (perintahkan kamu dengan semuanya itu) hanyalah kerana hendak menghapuskan perkara-perkara yang mencemarkan diri kamu. (al-Ahzab: 33)

Daripada Ibn Umar r.a katanya, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:

“Sesiapa yang menyerupai sesuatu kaum, dia termasuk dalam golongan mereka”. (hadis sahih riwayat Abu Dawud).

4. Meninggalkan solat berjemaah di masjid. Perlakuan ini bertentangan dengan anjuran Rasulullah SAW agar menunaikan solat secara berjemaah di masjid bagi kaum lelaki.

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:

“Solat berjemaah itu adalah lebih baik daripada solat bersendirian iaitu sebanyak 27 darjat (ganjaran).” (riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Sebagai kesimpulan, Aidilfitri adalah bukti kesyukuran hamba atas segala limpah kurniaan Allah yang Maha Kuasa.